Mewaspadai Raja Singa

Katamedia.id, Samarinda – Kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) di Kabupaten Sintang tinggi mencapai 80 persen.Penderita IMS, rata-rata merupakan remaja yang berstatus pelajar,mahasiswa dan usia muda.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang,dr Harysinto Linoh mengungkapkan fakta memprihatinkan mengenai kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) pada kalangan remaja di Sintang.Ia menyebut, kasus IMS pada remaja mengalami peningkatkan pada tahun 2022 hingga 2023 ini. (rri.co.id, 27/1/2023)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membeberkan fakta terbaru kasus penyakit menular seksual di Indonesia. Juru bicara Kemenkes, dr. Mohammad Syahril menyebut ada tiga penyakt menular seksual yang paling berisiko menjangkiti anak, yakni human immunodeficiency virus (HIV), sifilis (raja singa), dan hepatitis B.

Khusus raja singa , kata dr. Syahril, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yakni sejak 2018 sampai 2022 terjadi kasus peningkatan sifilis hingga 70%. “Dari 12 ribu kasus menjadi 21 ribu kasus saat ini,” ungkapnya, dalam konferensi pers daring pada Senin (8-5-2023).

Ada tiga kemungkinan anak tertular penyakit menular seksual, yakni saat dalam kandungan, saat proses melahirkan, dan saat proses menyusui.

Mengerikan

Sungguh mengerikan, anak tertular penyakit infeksi menular seksual. Mirisnya, penularan pada anak dari jalur ibu ke anak mencapai prosentase tertinggi, bahkan mencapai angka 80%.

Artinya, ada banyak ibu yang menderita infeksi sifilis. Lebih miris lagi ketika ibu penderita sifilis hanya 40% yang mendapatkan pengobatan. Makin miris ketika penyebab tidak berobatnya ibu karena larangan suami.

Peningkatan penderita sifilis pada anak menggambarkan rusaknya kehidupan masyarakat saat ini. Juga menggambarkan betapa anak menjadi korban perilaku buruk orang dewasa. Yang memprihatinkan, sifilis adalah penyakit menular seksual, maka tergambar jelas adanya praktek seks bebas atau berganti pasangan.

Praktek rusak seperti ini, terjadi karena pemahaman kebebasan perilaku dan dijadikannya sekularisme demokrasi sebagai sistem kehidupan. Sekularisme membuat individu bebas berbuat, hanya untuk mencari kenikmatan duniawi dan abai terhadap kehidupan setelah mati.

Penentu Aturan

Demokrasi menjadikan akal sebagai penentu aturan sehingga melahirkan aturan-aturan yang bertentangan dengan aturan agama. Agama hanya dianggap sebagai aturan dalam urusan privat semata dan dibuang dalam mengatur kehidupan bermasyarakat.

Maka, rusaklah masyarakat. Individu, termasuk orang tua tidak peduli lagi dengan risiko penyakit yang dideritanya karena kenikmatan duniawi sajalah yang dicari. Bahkan abai dengan bahaya yang mengancam buah hati.

Semua itu, tidak akan terjadi dalam masyarakat yang menerapkan aturan hukum Islam. Islam menjadikan akidah sebagai landasan hidup. Maka, seorang muslim akan taat pada aturan Allah, menjauhkan diri dari maksiat, dan takut siksa di akherat.

Mereka tidak akan terjerumus dalam seks bebas atau berganti pasangan. Seks bebas meski menggunakan pengaman pun tidak akan menjadi pilihan karena perbuatan itu adalah zina dan terkategori dosa besar.

Individu yang beriman, akan meninggalkan perbuatan yang membahayakan dirinya sendiri juga membahayakan orang lain, apalagi jika termasuk perbuatan dosa. Sanksi yang tegas atas perzinaan yang diterapkan oleh negara yang menjalankan hukum Islam juga akan mampu mencegah perbuatan dosa dan melindungi setiap individu dari penularan penyakit kotor ini.

Dalam pandangan Islam, semua jenis perzinahan adalah haram dan wajib dihukum sesuai dengan hukum Allah Swt, mereka diancam dua hukuman yakni sanksi jilid bila belum menikah, atau rajam bila sudah menikah.

Sanksi yang berat dalam Islam itu bertujuan untuk dua hal. Sanksi dalam hukum Islam bersifat preventif (zawajir) sehingga mencegah terjadinya kasus prostitusi dan kuratif (jawabir) sebagai penghapus dosa bagi pelaku kelak di hari akhir.

Negara yang tidak menerapkan hukum hudud bagi pelaku prostitusi akan berdosa. Setiap kemungkaran berdampak pada kerusakan masyarakat.

Hal ini disebabkan karena tidak diterapkannya hukum Islam. Itulah yang kini terjadi di negeri ini. Akibat tidak diterapkannya hukum Islam, kemungkaran menjalar ke mana-mana.

Hadis Nabi saw., “Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri” (HR Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan Ath-Thabrani).
Wallahualam.

Oleh. Emirza, M.Pd (Pemerhati Sosial)

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram